Sewajarnya Saja

 16 - Menu Utama, 16 - MU September, Suara Suami

8Kekhawatiran sejatinya bukanlah menjadi masalah jika ia tak menjadi raja yang mengatur diri kita.

Allah SWT menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini secara berpasang-pasangan. Tidak hanya makhluk hidup yang Allah jadikan ia berpasangan, namun juga persoalan rumah tangga yang acap kali kita jumpai. Setiap permasalahan yang kita hadapi telah lebih dahulu Allah siapkan solusinya untuk kita. Dari yang kecil dan sering kita sepelekan, hingga yang besar dan mampu menggoyahkan lutut kita untuk hanya sekedar tegak berdiri. Namun, bukan untuk jatuh Allah menghadapkan masalah di depan kita. Bahkan Allah hingga dua kali mengulang firman-Nya ini untuk meyakinkan kita? Bahwa sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.

Jikalau bukan karena firman-Nya, belum tentu saya dan keluarga dapat tegar dan sabar dalam menghadapi segala ujian yang datang silih berganti. Terlebih jika hanya untuk memahaminya saja ia telah banyak menyita waktu kami. Begitu lamanya hingga timbul pemikiran jika kelak sampai diwariskan kepada anak cucu kita. Kejengahan boleh saja timbul serta memperkeruh yang sudah keruh. Namun kita selalu memiliki pilihan untuk diambil. Rasa panik sebagai buah dari kekhawatiran yang berlebih sangat mudah untuk menguasai diri kita. Atau sejenak menenangkan, membiarkannya mengendap agar kita lebih dapat memandangnya secara jernih.

Kekhawatiran sejatinya bukanlah menjadi masalah jika ia tak menjadi raja yang mengatur diri kita. Kami selalu memandang apapun yang menghampiri rumah tangga kami dengan sewajarnya saja. Mungkin memang sudah menjadi karakter diri saya sedari kecil untuk tidak melebihkan apapun yang saya alami. Saat kita merasa senang, tak perlulah ia harus dirayakan dan menyita banyak perhatian kita. Begitu pula kala persoalan yang berganti menemani. Walau sebesar apapun ia tidak saya biarkan menutupi mata untuk dapat memandang dengan sebagaimana mestinya. Pandangan seperti inilah yang coba saya tularkan kepada keluarga agar kami tetap memiliki langkah yang sama.

Namun tentu saja istri pun memiliki pandangan yang berbeda saat menghadapi masalah yang sama. Kami mencoba saling memahami perbedaan yang ada diantara kami sedari awal. Berkompromi terhadap perbedaan yang memungkinkan terjadinya gesekan adalah kebutuhan di awal pernikahan. Meski pada akhirnya gesekan itu tetap saja terjadi, namun tidaklah sama saat kita telah berusaha. Perbedaan – perbedaan yang sebelumnya tidak nampak pun bisa jadi muncul di tengah-tengah kedamaian rumah kita. Namun tak lantas kami pandang sebagai tanda akan ketidakcocokan yang menguat diantara kami. Getirnya tak pernah bosan mengajak kami untuk terus belajar saling memahami.

Seberapa pun lamanya badai itu menghampiri, ia hanya menjadi selingan di antara hari-hari kita membersamai keluarga. Namun sering kali kita lebih mudah untuk berlama-lama dengan selingan ini hingga lupa untuk membenahi rumah yang sedikit goyah. Lubang kecil yang ditinggalkan badai pada dinding rumah acap kali dibesar-besarkan, sembari mengibarkan telunjuk kepada semua orang. Terlebih jika ego sampai dikedepankan serta tidak malu untuk saling menyalahkan. Maka tak perlu menyesal jika hasilnya tak seperti yang diharapkan. Yang seharusnya selesai justru semakin runyam bak tak pernah usai.

Ada baiknya jika kita, para suami lebih khususnya, untuk menilik kembali sebab badai itu menerpa. Meski segala yang terjadi merupakan sunnatullah, namun tidaklah lantas kita biarkan tanpa mendapat perhatian. Pada saat seperti ini, mengintrospeksi diri bukanlah hal yang salah untuk diambil. Bisa jadi, ujian itu berasal dari diri kita sendiri. Namun ego pribadi membuatnya sulit untuk disadari.

Tentu semua tidaklah selesai pada pembenahan pribadi kita saja, karena kita tidaklah seorang diri lagi jika telah berkeluarga. Masih ada istri yang tidak menutup kemungkinan memiliki persepsi yang berbeda meski telah lama melewati waktu bersama. Terlebih jika ia merasa digurui tanpa melihat pesan kebaikan yang tersirat dalam lisan kita. Usaha untuk membenahi komunikasi bersama istri patut kita digarisbawahi. Meski bukan saran yang dicari, adanya masukkan dari istri janganlah cepat dijadikan alergi. Setidaknya itu adalah sebuah bukti dan tanda  perhatiannya yang sayang untuk disia-siakan.

Pada akhirnya tugas kita sebagai hamba-Nya hanyalah berusaha. Perkara semua hasil yang ada adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Oleh karenanya, agar ikhtiar kita diridoi-Nya, doa haruslah bukan sebuah hal yang asing dalam membersamai usaha kita. Sebuah permohonan sekalipun, jika ia tertuju hanya kepada Allah semata, telah bernilai ibadah di samping janji-Nya untuk mengijabah segala doa. Jika demikian, adakah badai yang lebih besar dari Yang Maha Besar? [himam] 

Meski bukan saran yang dicari, adanya masukkan dari istri janganlah cepat dijadikan alergi.

 

Narasumber:

Candra Purnawan, M.Sc.

banner 100x60

Author: 

Related Posts

Leave a Reply