Sebuah Rencana

 16 - Kolom, Mengeja Langkah

Mereka yang visioner biasanya tak pernah absen dari rencana.
Kehidupan yang sebenarnya akan segera dimulai. Sebulan setelah menyandang gelar barunya, ia membuka percakapan dengan seseorang. Sore itu, di sebuah bangku panjang di sebuah taman dengan pepohonan rindang di sekelilingnya.
“Apa rencanamu kemudian?”
“Belum tau.”
Setiap hari, ada saja orang yang menanyakan tentang bagaimana rencana ke depan.
“Kamu ingin melamar atau dilamar duluan?”
“Hehe,”
Belum lagi, ketika acara reuni dengan teman SD, SMP, hingga SMA. Kawan SD sudah bathi beberapa, sementara kawan SMP yang berkeluarga semakin banyak.
“Lha kamu kapan?”
“Hehe”
Lain lagi dengan teman SMA, yang mayoritas sepadan dalam pemikiran. Kali ini mereka lebih menonjolkan jenjang karir dengan tolok ukur gaji yang menggiurkan.
“Wah, sekarang kamu kerja di perusahaan ABCD ya? Pasti gajinya wow!”
“Oh iya, sekarang kan zamannya nikah muda, maklum mulai nyicil persiapan.” Begitu seterusnya, sampai ia merasa cukup menanggapinya dengan memasang senyum datar.
Rencana menjadi sesuatu yang begitu dinantikan. Membahasnya seperti tak ada habisnya. Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam membahasakan sebuah perencanaan hidup. Mereka yang visioner biasanya tak pernah absen dari rencana. To do list menjadi awalan sebelum memulai hari. Jangankan rencana jangka panjang, rencana jangka pendek hingga menengah saja selalu dipersiapkan dengan matang. Bahkan, tak jarang mereka akan menggebu-gebu manakala menceritakannya pada orang lain. Sekalipun itu baru sebatas keinginan tanpa persiapan. Sekalipun itu hanya demi sebuah jawaban yang sesuai ekspektasi penanya. Tidak ada yang salah. Kebebasan berekspresi bukan?
Terkadang ia bingung dalam menyikapi para pemerhati kehidupan yang seringkali kepo dengan rencananya. Menjawab pertanyaan mereka baginya hanya akan menambah-nambah pengharapan orang lain. Bersyukur kalau benar-benar terwujud. Namun, bagaimana jika berakhir sebatas wacana? Padahal, ia tidak suka menjadi pemberi harapan palsu. Di sisi lain, ia menganggapnya sebagai doa yang disemogakan akan segera terkabul. Karenanya, tak mengapa sesekali berbagi, siapa tahu ada bala bantuan datang hanya dengan sekali curhat.
Konon, kepo adalah bagian dari proses silaturrahim. Jadi, sengaja ia memberikan kesempatan pada orang lain untuk beribadah. Barangkali, orang-orang itu kesulitan menemukan topik pembicaraan yang sesuai mengingat minimnya frekuensi pertemuan. Ia pun menghargai setiap pertanyaan yang terlontar sebagai wujud perhatian. Karena, sesekali tujuan bertanya tidak hanya memenuhi rasa ingin tahu, tetapi juga berbuntut saran dan nasihat.
Namun, sematang apapun rencana, ia akan menjadi purba suatu saat nanti. Kita hanya akan mengingatnya sebagai sebuah histori dalam memori. Sebagaimana, ketika masih kecil kita ditanya,
“Apa cita-citamu?”
“Ingin jadi pilot”
Dengan mata berbinar kita menjawab tanpa mengerti resiko pekerjaan sebagai pilot. Yang kita pahami, pilot itu keren karena bisa menerbangkan pesawat yang besar. Begitu menginjak usia pubertas, pemikiran semakin matang membuat kita merasa perlu merevisi mimpi.
“Aku ingin jadi guru. Karena guru adalah pekerjaan yang mulia”
Ada tambahan alasan logis setelah sebuah keinginan terlontar. Pertanda kita semakin mengerti dengan pilihan yang akan diambil. Begitu dewasa, kita sudah semakin merangkak dari fase kelabilan.
“Sebenarnya aku ingin jadi ilmuwan. Tetapi, aku lebih berbakat menjadi sastrawan.”
Masih dengan pertanyaan yang sama, namun jawaban yang berbeda. Kali ini, kita tampak lebih realistis dalam menginginkan sesuatu. Kita mulai sadar bahwa ada hubungan sebab akibat yang perlu dipertimbangkan.
Tak bisa dipungkiri, orang-orang besar adalah mereka yang hidup dengan rencana. Mereka yang memiliki keinginan besar dalam hidup dan berusaha mewujudkannya. Muhammad Al Fatih yang bercita-cita menaklukkan Konstantinopel telah menyiapkan realisasi atas mimpinya sejak usia muda. Strategi perang yang cerdas dan keberanian yang luar biasa membawanya pada kemenangan. Semua berawal dari perencanaan yang matang. H.O.S Cokroaminoto dengan triloginya setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat membawanya menjadi organisator ulung, konseptor idealis yang melahirkan para pemimpin besar di Indonesia. Mimpinya berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan diwujudkan dengan lahirnya organisasi dengan asas islam sebagai landasannya. Menandakan apa yang diyakininya telah diterapkan dalam sebentuk rencana besar.
Sekarang kita mengingatnya sebagai kenangan. Kenangan, bahwa kita pernah menjawab pertanyaan serupa dengan jawaban yang bervariatif sesuai jenjang usia dan kematangan berpikir. Bahwa kita pernah berulangkali merevisi mimpi dengan mengatakannya pada orang lain sebelum mewujudkannya. Sepertinya, kita memang terbiasa berencana. Mungkin karena kita terngiang dengan peribahasa “Gantungkan cita-citamu setinggi langit” yang ditanamkan oleh orang-orang. Para motivator, guru, orang tua, dan siapapun itu terbiasa mengajak kita hidup dengan rencana. Meski mungkin kita tidak siap dengan keinginan sendiri, sugesti yang ditanam begitu kuat. Sehingga cukup mampu untuk ‘menipu’ orang lain dengan pengharapan kosong. Pada dasarnya setiap manusia memiliki rencana dalam hidupnya. Perbedaannya terletak pada bagaimana kita menyikapinya. Apakah memilih menyebarluaskan sebelum menjadi kenyataan atau memilih memendamnya sebagai sebuah gagasan. [Erlina]
Konon, KEPO adalah bagian dari proses silaturrahim.

banner 100x60

Author: 

Majalah Embun adalah majalah keluarga yang berada dalam institusi Lembaga Amil Zakat Al-Ihsan Jawa Tengah (LAZiS Jateng). Sebagai majalah keluarga bahagia, Majalah Embun hadir sebagai penyejuk jiwa keluarga samara. Dengan tagline “Penyejuk Jiwa Keluarga Samara”, Majalah Embun berusaha untuk membersamai keluarga muslim, berbagi ilmu dan pengalaman, dan meraih kebahagiaan keluarga samara.

Related Posts

Leave a Reply