Pembatasan dan Pendampingan

 16 - Ayah Bunda, 16 - AYB September, Cerita Ayah

18Kecenderungan anak adalah melihat hal yang menarik. Gambar dan warna adalah media yang paling mudah dingat oleh anak. Maka tak heran jika sebagian besar anak senang melihat telivisi yang mempunyai unsur tersebut. Ketika diminta untuk menceritakan kisah si kancil mencuri timun pun, akan terlihat berbeda jka didapat dari buku dengan televisi. Baru baca limabelas menit mungkin anak-anak sudah tidak betah. Tapi kalau telivisi berjam-jam pun pasti betah. Karena gambar yang ditampilkan, sedangkan buku menampilkan teks. Namun bukan berarti saya sepenuhnya setuju membiarka anak terlarut bersama televisi. Apabila sekiranya mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya, tentu saja saya akan membatasinya.

Alhamdulillah saya dan istri dikaruniai dua orang anak. Yang pertama berusia tiga tahun lebih, dan yang kedua baru berumur tujuh bulan. Jadi belum terlihat ketertarikan anak pada televisi karena usianya yang sangat dini. Apalagi sampai kecanduan. Secara pribadi saya dan istri memperbolehkan anak menonton televisi. Yang saya tahu, dasar segala hukum itu mubah kecuali ada perkara yang mengharamkan. Selain itu, persoalan televisi yang dikekang menurut saya juga memiliki potensi bahaya ketika anak sedang tidak berada dalam pengawasan dan bersama teman-temannya yang semua (anak normal) menonton tv. Itu terkait banyak hal. Dan bisa jadi terjerumus kepada hal-hal yang negatif, meskipun lembaga sensor pertelivisian semakin ketat.

Tapi mari kita ambil sisi positifnya. Secara psikologis, dengan kontrol, anak akan mendapatkan keyamanan dalam menonton televisi. Juga karena kepercayaan dari orangtuanya. Di luar itu, televisi juga dapat digunakan untuk bertransaksi terkait kebiasaan-kebiasaan yang harus dijaga. Televisi juga menjadi media pengajaran dengan cara pengawasan yang tepat. Sehingga orangtua memang berkewajiban untuk memfilter acara-acara apa saja yang tepat bagi anak. Memberi pengertian sebaik-baiknya kepada anak agar paham bahwa apa yang kita utarakan adalah yang terbaik untuk masa depannya. Bukanlah hal yang berat selama satu atau dua jam mengawasi anak menonton tayangan televisi yang “sehat”.

Sebaliknya, dampak negatifnya pun perlu diwaspadai. Bukan masalah konten-konten yang tidak tepat untuk anak. Melainkan pihak media yang mulai cerdas menyamarkan hal-hal yang sebenarnya tidak tepa untuk anak. Bagaimana adegan kekerasan dikemas menjadi suatu pertunjukkan yang mengasyikkan bagi si anak. Dan ujung-ujungnya adalah imitasi atau menirukan hal-hal semacam itu. Anak saya contohnya lebih hafal lagu partai politik yang sering nongol di iklan dibandingkan dengan lagu kebangsaan. Memang warna nadanya sama, dan inilah yang saya maksud dengan  kecerdasan menyamarkan tampilan. Mungkin hal ini juga sering dialami anak dari bapak dan ibu pembaca Embun. Inilah pentingnya fungsi pengawasan dari orangtua.

Sehingga sebagai orangtua saya mengijinkan anak untuk menonton acara kartun dan edukasi. Saya pikir tayanga tersebut lebih aman bagi psikologis anak. Maka setiap kali anak menonton televisi, saya dan khususnya istri selalu melakukan pendampingan ketika di rumah. Dan Alhamdulillah anak saya yang berumur tiga tahun lebih tidak kecanduan menonton televisi. Sehingga lebih mudah dalam memberikan porsi waktu untuk belajar dan mengaji lebih banyak. Tidak ada jadwal khusus dalam membolehkan anak menonton televisi. Semuanya dibiarkan mengalir, jadi fleksibel. Yang penting tetap dalam pengawasan. Kami kira ini adalah langkah terbaik dalam memberi kebebasan kepada anak.

Saya dan istri sama sekali tidak termasuk golongan yang mengharamkan keberadaan televisi di rumah. Sampai detik ini saya dan istri setuju-setuju saja denan keberadaan televisi dengan batasan kuat dan pendampingan menyeluruh. Hingga anak saya pun sangat hafal dengan iklan dan lau dalam iklan. Saya hanya beranggapan mungkinkah hal ini bisa dimplementasikan untuk menghafal alquran. Karena memang kondisi oak anak usia dini sangat segar untuk menerima sesuatu yang baru. Sehingga sebisa mungkin mematrikan hal yang baik di otak anak. Jangan sampai anak menjadi kecanduan menonton televisi.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan jika anak sudah kecanduan menonton televisi? Melakukan pembatasan dan pendampingan adalah cara paling sederhana yan bisa dilakukan. Pada beberapa hal juga perlu dilakukan penjelasan yang logis kepada anak. Karena anak-anak menyukai hal yang logis dan kadang pula imajinasi. Mengalihkan perhatian anak kepada aktivitas lain yang lebih bermanfaat dan menyenangkan bisa jadi alternatif. Percayalah, bahwa sejatinya kebersamaan dengan keluarga itu dapat mengalahkan segalanya termasukkecanduan televisi. Berikanlah waktu bersama anak yang berkualitas dengan pendampingan.

Ali Imron El Shirazy

Seorang ayah dari dua anak yang mengabdikan diri sebagai dosen serta konsen sebagai novelis.

banner 100x60

Author: 

Related Posts

Leave a Reply