Pasca Masa Kritis Kehidupan

 16 - Menu Utama, 16 - MU September, Fenomena

6Di dunia ini tidak ada yang tercipta untuk selamanya. Barang sekecil apa pun pasti memiliki masa berlaku. Baik itu berupa masa kejayaan, masa sehat, masa bahagia, dan sebagainya. Tak terkecuali juga masa sulit dari setiap episode kehidupan manusia. Akan ada fase di mana duka cita yang menyelimuti hidup seseorang akan melewati masa kadaluwarsa.

Masih tidak percaya?

Allah sudah berjanji bahwasanya sesungguhnya ada kemudahan bersama kesulitan. Kalimat ini ditekankan sampai dua kali, tapi bukan tanpa syarat. Mudah saja syaratnya, kita hanya tidak pernah berhenti untuk ikhtiar dan berdoa. Saat kita telah menyelesaikan satu pekerjaan, maka lanjutkan lagi pekerjaan yang lain dengan sebaik-baiknya. Janji Allah tersebut ada di dalam Q.S. Al Insyirah: 5-7.

Selanjutnya, mari kita tarik analogi ke dalam kehidupan rumah tangga kita. Saat kenyataan yang ada di hadapan kita merupakan rentetan kesulitan, maka jangan biarkan kita tenggelam dalam rasa jengah yang berkepanjangan. Manusiawi memang, bilamana manusia hendak menyerah dan kalah menghadapi kenyataan yang tak sesuai angan-angan. Tapi bukankah Allah tak pernah ingkar janji?

Membayangkan masa-masa sulit ketika usaha sang suami yang tak kunjung memperlihatkan profit lebih setelah sempat jatuh di angka menuju bangkrut, nikmat sehat yang tiba-tiba dicabut, cibiran dan atau gunjingan kerabat yang tak pernah membantu, semangat belajar anak yang tiba-tiba loyo, dan lain sebagainya. Pasti pahit. Sebab di awal menikah, kedua mempelai (mungkin) belum sempat mempersiapkan diri dengan benteng yang tangguh untuk menghadapi masa-masa sulit ini.

Tapi jika sudah terjadi, mau apa lagi? Toh ujian yang diberikan Allah SWT tak mungkin tanpa alasan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara kita untuk mencambuk diri sendiri bahwasanya setiap badai pasti akan berlalu. Walaupun mungkin, pasca badai terjadi tetap banyak bekas kerusakan pada kokohnya bangunan rumah tangga yang telah dibangun sejak awal. Bukankah bijaknya kita mulai merenovasi kerusakan yang ada?

Inilah yang dimaksud bahwa Allah akan menepati janji-Nya untuk memberikan kemudahan selama ada itikad baik dalam diri kita untuk terus berikhtiar dalam memperbaiki keadaan. Sedikit demi sedikit, yang dulunya retak, mulai kita tambal lagi. Pelan-pelan yang diuji dengan penyakit, maka berikhtiar untuk melakukan gaya hidup yang lebih sehat sesuai sunah. Mereka yang diuji dengan sedikit rasa lapar dan kemiskinan, perlahan mulai merintis jalan rezeki sesuai yang dihalalkan. Anak-anak yang sempat salah jalan, mulai dibimbing kembali ke jalan yang benar. Semua tak akan pernah berhasil tanpa usaha kooperatif dari semua pihak, termasuk proses melibatkan Allah dalam setiap prosesnya.

Allah telah menciptakan warna pelangi seusai mendungnya langit sebagai penanda akhirnya sebuah badai. Maka dari itu, kita seyogyanya percaya bahwasanya Allah pun akan memberi kita keindahan apabila kita ikhlas menerima terpaan cobaan dalam hidup kita.

Buah Dari Dosa

Banyak di antara kita yang mengeluh, mempertanyakan keadilan Tuhan, bahkan sampai menggugat-Nya hanya karena ketetapan-Nya terlalu pahit untuk diterima. Terkadang hati dan pikiran kita tak cukup lapang untuk bisa melihat sebuah cobaan sebagai sebuah anugerah. Tidak percaya? Coba, kita simak hadits berikut ini:

“Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya,” (H.R. Bukhari no. 5641).

Sebelum kita berani mempertanyakan keadilan Tuhan dalam menciptakan skenario kehidupan, ada baiknya jiwa kita yang kotor ini berintrospeksi. Bukan tidak mungkin rasa sulit di hadapan kita saat ini adalah buah yang harus kita tuai dari apa yang telah kita tanam di masa lalu. Man yazro yahsud.

Dan betapa mulianya Allah SWT yang masih memberi celah ampunan dengan memberi kita cobaan. Coba bayangkan jika kita tidak diberi sentilan di dunia sebagai bentuk penggugur dosa, akan jadi apa diri ini di alam akhirat nanti?

Untuk itulah, sebagai bentuk balasan rasa sayang kita kepada Allah SWT yang telah memberi pintu ampunan dengan cara memberikan ujian, tidak ada salahnya kita juga membalas rasa sayang-Nya dengan berproses untuk memperbaiki diri setelah masa kritis cobaan telah perlahan terlewat. Supaya Allah ridho pada kita, maka belajarlah ridho pada setiap hadiah yang diberikan dari-Nya. Bahkan jika hadiah tersebut berupa kepahitan hidup di dunia.

Dan akhirnya, mari kita bertanya lagi pada diri sendiri… Sudah sejauh mana kita berikhtiar dalam menjemput kemudahan Allah yang telah dijanjikan-Nya? [Muthia]

banner 100x60

Author: 

Related Posts

Leave a Reply