Nggak Lagi-Lagi Sembarangan

 16 - HMP September, 16 - Hompimpah, Keluarga Kita

50“Bunda, aku sakit perut!” suara Hasan merintih sambil mengetuk pintu rumah.
“Iya, sayang, sebentar” jawab Bunda sambil segera membukakan pintu.
Baru saja pintu dibuka, Hasan langsung berlari menuju toilet dengan tas yang masih berada di punggungnya.
“Hasan kenapa?” tanya Bunda pada Hasan yang sudah sangat dekat dengan toilet.
“Hasan sakit perut, Bunda. Mau ke toilet dulu, sudah nggak kuat,” jawab Hasan dengan cepat.
“Tasnya di lepas dulu, Hasan,” suara Bunda sudah tidak terdengar lagi oleh Hasan yang terburu menutup pintu. Bunda hanya bisa menggelengkan kepala melihat tindakan Hasan. Tidak lama kemudian Bunda Muthia tiba-tiba saja panik. Bunda terlihat bingung dan kembali mengetuk pintu toilet.
“Hasan, buka dulu pintunya sebentar,” pinta Bunda.
“Sebentar Bunda, perut Hasan masih sakit,” jawab Hasan.
Bunda pun semakin panik. Sampai beberapa saat kemudian Hasan membuka pintu dengan wajah yang lebih tenang.
“Kenapa Bunda panik sekali tadi?” tanya Hasan yang bingung melihat tingkah Bunda.
“Soalnya tadi Hasan masuk toilet bawa tas,” jawab Bunda singkat.
“Oh, Hasan kira ada apa. Bunda takut tasnya basah, ya? Tenang aja Bunda, tasnya tadi Hasan letakkan di atas, jadi gak basah kok,” jelas Hasan.
“Bukan, sayang, bukan masalah basahnya. Tapi masalahnya adalah yang ada di dalam tas kamu,” jawab Bunda.
“Memang di tas Hasan ada apanya, Bun?”
“Di tas Hasan kan ada Al Quran. Dan kita tidak boleh membawa Al Quran ataupun kalimat-kalimat Allah ke dalam toilet, sayang,”
“Oh, iya. Maaf Bunda, Hasan benar-benar lupa,” ucap Hasan sambil menepuk dahinya.
“Sudahlah, yang terpenting besok jangan diulangi lagi, ya sayang,”
Hasan pun kemudian bercerita tentang apa yang membuatnya sakit perut. Hasan bilang tadi waktu istirahat jajan sembarangan. Juga tidak sempat cuci tangan sebelum makan. Padahal tangannya sudah sedari memegang pulpen, meja, dan berbagai tempat yang mungkin banyak kotorannya.
“Kalau begitu, besok lebih hati-hati lagi ya jajannya. Kalau sakit perut lagi kan Hasan jadi lupa tata cara masuk kamar mandi yang diajarkan oleh Rasulullah,” ucap Bunda mengingatkan Hasan.
“Memang bagaimana tata cara sebelum ke toilet dan sesudahnya?” tanya Hasan.
Bunda kemudian mengingatkan Hasan untuk berdoa sebelum toilet ataupun kamar mandi.
“Allahumma innii a’uudzubika minal khubutsi wal khobaaits, itulah doa sebelum masuk kamar mandi atauoun toilet,” ucap Bunda menerangkan.
Selain itu Bunda juga mengingatkan Hasan untuk masuk dengan mendahulukan kaki kiri. Saat sudah berada di dalam toilet Bunda mengingatkan agar tidak buang air menghadap kiblat ataupun membelakangi kiblat. Setelah selesai buang air dan telah dibersihkan, hasan diingatkan untuk keluar dengan kaki kanan terlebih dahulu.
“Selain keluar dengan kaki kanan, jangan lupa membaca, Ghufraanaka. Begitu sayang,” jelas Bunda.
“Waaah, semuanya sepertinya terlewatkan oleh Hasan, Bunda,” sesal Hasan.
“Sudah, tidak perlu disesali. Sekarang, yang terpenting adalah Hasan sudah mengetahui tata cara saat akan pergi ke toilet dan juga saat keluar dari toilet,”
“Bunda, memang kenapa kita harus ke toilet dengan tata cara seperti itu,”
“Tentu saja supaya kita mendapatkan perlindungan dari Allah. Kita tidak pernah tahu akan ada bahaya yang mungkin terjadi di dalam toilet. Maka, jika kita sudah terlebih dahulu berdoa kepada Allah, tentu Allah akan menjaga kita,” Ucap Bunda dengan senyum mengembang. [hasan]

banner 100x60

Author: 

Majalah Embun adalah majalah keluarga yang berada dalam institusi Lembaga Amil Zakat Al-Ihsan Jawa Tengah (LAZiS Jateng). Sebagai majalah keluarga bahagia, Majalah Embun hadir sebagai penyejuk jiwa keluarga samara. Dengan tagline “Penyejuk Jiwa Keluarga Samara”, Majalah Embun berusaha untuk membersamai keluarga muslim, berbagi ilmu dan pengalaman, dan meraih kebahagiaan keluarga samara.

Related Posts

Leave a Reply