Menuju Hijrah yang ‘Sehat’  

 16 - Pra Nikah, 16 - PRN September, Trik Romantik

42Setiap orang memiliki alasan tersendiri dalam melakukan setiap tindakan. Konon, orang bijak tidak akan memberi judgement tanpa mengetahui alasan di balik sebuah pilihan. Apalagi jika keputusan yang diambil sudah kebas dari pertanyaan-pertanyaan orang. Seperti, hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah adalah sebuah perjuangan. Sebagaimana perjuangan yang dipilih oleh Ali r.a ketika memilih menunggu Fathimah dalam kediaman rasa. Sekalipun beda konteks, keduanya sama-sama dilakukan atas dasar panggilan hati yang lurus, semata karena Allah. Lantas, bagaimana dengan kita hari ini?

Dulu dan Sekarang

Ketika dulu seorang sahabat galau sebelum terjun dalam peperangan, kegalauan kita lebih parah hanya karena patah hati. Ketika sahabat itu akhirnya memilih mundur dari peperangan karena belum siap, kita yang belum siap memilih maju mendekati pujaan hati agar tak diambil orang. Ketika akhirnya, sahabat itu dijatuhi sanksi dengan didiamkan oleh Allah dan orang-orang, kita justru senang jika tidak ada intervensi dari pihak lain dalam perkara hati. Tentu tidak bisa dibandingkan! Mereka kan hidup di lingkungan nubuwah, dengan kadar keislaman yang wah. Sedangkan kita? Justru karena tidak lagi mencicip manisnya iman semanis yang mereka cicip, kita perlu berhijrah dengan niat yang sehat. Tidak ada paksaan untuk pindah ke lain hati jika memang kemantapan sudah di ujung tanduk. Tidak ada pula paksaan untuk meninggalkan jika memang hati siap dengan konsekuensinya. Hanya hati yang perlu dituntun agar niatnya selalu tepat.

Hijrah dalam Perkara Jodoh

Dalam semua konteks, hijrah adalah sebuah kebutuhan. Fase dari anak-anak menjadi dewasa juga sebuah perjalanan dengan proses di dalamnya. Hijrah adalah sebuah upaya menjadikan diri lebih baik dari hari kemarin. Jika pernah gagal dalam memilih atau dipilih calon jodoh, maka hari ini kita perlu mengevaluasi diri. Apa yang kurang? Seringnya kita menyalahkan keadaan atau yang bersangkutan hingga berakhir suudzon pada Pemberi Jodoh. Sementara, kita alpa dari interospeksi diri. Bahwa mungkin kebaikan jodoh belum nampak, karena diri belum baik. Bukan berarti jodoh yang datang akan sebaik kualitas kita. Namun, yang pasti kehadirannya berharga setara dengan upaya kita memperbaiki diri selama penantian. Masih karena jodoh adalah bagian dari takdir yang bisa diusahakan, maka tak ada salahnya menginginkan yang terbaik. Akan tetapi, jangan sampai niat untuk menjadi lebih baik semata ditujukan demi imbalan pasangan sesuai kriteria. Karena, sejatinya perkara hijrah diniatkan untuk ibadah demi meraih Cinta-Nya. Maka, ketika Dia sudah ridho, semuanya mungkin bagi kita, bukan? [Erlina]

banner 100x60

Author: 

Related Posts

Leave a Reply