Mengalahkan Badai

 16 - Menu Utama, 16 - MU September, Dua Koma

14Menata hati

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”

(Q.S. 13:11)

Ayat tersebut sejalan dengan segala penyakit diturunkan beserta obatnya oleh Allah SWT. Manusia tinggal berusaha menemukannya. Barang siapa yang tidak mau berusaha mencarinya, maka ia tidak akan mampu mengubah nasib penyakitnya untuk sembuh. Meskipun itu hanya goresan pisau semata. Memang sembuh dengan sendirinya. Namun akan memakan waktu yang lama untuk sembuh jika tidak diobati. Apalagi jika terkena penyakit gula. Bisa jadi tamat kehabisan darah. Badai yang menghantam mungkin masih menyisakan luka dan kesedihan. Jika hal itu berlanjut, semakin terpuruklah kita.

Banyak hal yang membuat seseorang enggan untuk bangkit setelah badai berlalu. Salah satunya adalah belum siapnya hati untuk menghadapi apa yang ada di depan kita. Maka dari itu perlu diawali dengan menata hati atau lebih tepatnya membangun motivasi kembali. Berserah diri adalah inti ajaran Islam, “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, (Q.S. Yusuf: 86). Itulah sebuah jimat yang ampuh untuk mengambil ancang-ancang. Seolah menjadi sebuah jaminan untuk memulai langkah baru dengan nyaman. Paling tidak 50% telah tertata kondisi hati dengan menelaah sungguh-sungguh ayat tersebut. Selanjutnya adalah tindakan nyata, minimal perencanaan, untuk menyempurnakannya 100%.

Membangun Kepercayaan

Masalah internal yang dialami oleh suami istri seringkali membuat hubungan di keduanya menjadi renggang. Kepercayaan seolah menurun, berbeda dengan ketika baru memulai perjalanan. Sebelum melanjutkan perjalanan, terlebih dahulu dibangun kepercayaan kembali di antara keduanya. “Aku percaya bahwa denganmu kita bisa menghadapi masalah bersama-sama, seberat apapun itu”. Kalimat seperti itu mungkin jarang diucapkan lagi, bahkan canggung. Permasalahan yang memuncak dapat digambarkan dengan kurva. Ketika titik mencapai puncak, tidak mungkin bisa langsung mereda ke titik nol. Perjalanannya perlahan-lahan mereda ke titik nol dimana semuanya kembali normal tanpa masalah. Begitu juga dengan membangun kepercayaan prosesnya demikian. Sabar dan menahan diri diperlukan agar tidak terjadi salah paham. Sehingga kapal yang diperbaiki dapat melanjutkan perjalanan. Mengekang ego agar tidak menimbulkan retak yang baru saja diperbaiki. Ada dua kemungkinan, semakin sensitif atau semakin pengertian. Trauma adalah buah tragedi. Keduanya akan semakin berhati-hati dalam menjaga hati, atau semakin sensitif untuk menang sendiri.

Yang pertama, aku tidak ingin terjadi keretakan seperti sebelumnya, maka aku harus meningkatkan pengertian dan kepercayaan kepadanya. Aku tidak ingin berakhir pada perpisahan melalui meja hijau. Yang kedua, aku akan meyakinkannya bahwa pendapatku itu lebih baik daripadanya sehingga hanya ada kata sepakat dariku. Kejadian yang pertama adalah harapan seluruh suami istri pasca menghadapi badai. Namun banyak juga yang mengalami kejadian yang kedua sehingga sulit memulai langkah baru. Itulah pentingnya menahan diri. Bayangkan seorang musafir tidak minum selama dua hari di bawah terik matahari, haus luar biasa pasti. Lalu berikanlah air es seteko besar. Jika musafir itu tidak bisa menahan diri setelah cobaannya berlalu, tentu saja ia akan mati dengan menghabiskan air seteko itu. Suatu nafsu terhadap sesuatu karena merindu, dan seketika hadir pengobat rindu itu, maka tamatlah riwayatnya jika tidak mampu menahan diri.

Melanjutkan Perjalanan

Jalan di depan masih panjang, badai pun pasti akan ditemui kembali. Karena laut tidak pernah tenang. Maka perjalanan pun harus berlanjut. Hal ang terpenting adalah tahu betul kemana tujuan hidup berkeluarga. Seorang muslim tidak akan berputus asa untuk meraih cita-cita mulianya selama itu diridhai Allah. Sebagai manusia, kondisi terpuruk adalah hal yang pasti dialami. Karena hidup seperti roda, ada masanya berada di atas, juga di bawah. Beruntung sekali orang yang mampu bangkit sendiri dengan motivasinya. Namun juga banyak yang memerlukan penguatan seperti dukungan. Terkadang dukungan moril sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan. Sebut saja orangtua yang sarat pengalaman dalam membangun rumah tangga. Nasihat mereka adalah suatu yang sangat berharga untuk kehidupan kita. Suri tauladan kita pun juga demikian, memerlukan suatu dukungan moril. Pernah suatu ketika Rasulullah saw terlibat pertikaian dengan Aisyah r.a dan meminta saran kepada Ali r.a. Maka dari itu, meminta dukungan moril bisa menjadi penguat untuk kembali melanjutkan perjalananan menuju cita-cita hidup rumah tangga. [heri]

Karena laut tidak pernah tenang. Maka perjalanan pun harus berlanjut.

banner 100x60

Author: 

Related Posts

Leave a Reply