Menata Puing Dengan Kesederhanaan

 16 - Menu Utama, 16 - MU September, Kisah Klasik

12“Elok nian, ketika penerimaan atas jalan hidup yang telah ditentukan sang nahkoda menjadi pilihan jalan bersama”

Tidak dapat dipungkiri lagi bahawa niat adalah landasan gerak setiap insan. Termasuk di dalam pernikahan. Sejauh mana niat sepasang individu untuk membangun bingkai rumah tangga, sejauh itulah rumah tangga akan dibangun.

Niat ini pula yang akan membantu pasangan suami istri untuk tetap setia dalam segala suasana. Mulai dari masa awal membangun pondasi rumah tangga hingga mencapai puncak. Pula ketika masalah mulai menghadapi. Goncangan masalah ini seringkali akan merobohkan pondasi rumah tangga, jika belum benar-benar kuat. Jikapun rumah tangga selamat dari badai permasalahan, perlu kiranya menambal dan memperkuat kembali bangunan rumah tangga yang sudah ada sesuai dengan tujuan awal pernikahan di bangun.

Terkait masalah landasan niat yang kuat dalam pernikahan para pendahulu telah banyak memberikan contoh pada kita, salah satunya adalah rumah tangga khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan sayyidina Fatimah.

Wajar kiranya jika pada masa itu masyarakat berpandangan bahwa pernikahan antara khalifah Umar dengan Fatimah r.a. adalah pernikahan yang dilandasi atas kekayaan dan kebangsawanan. Karena memang pada dasarnya keduanya memang memiliki itu semua, apalagi perangai baik yang dimiliki juga semakin memperkuat bahwa seakan pernikahan ini memang berdasar pada hal semacam ini. Namun, sepertinya hal ini kurang tepat.

Kehidupan mewah dan serba tercukupi yang biasa dimiliki oleh khalifah Umar dan fatimah ternyata bukanlah alasan utama yang melandasi pernikahan mereka. Hal ini terbukti dari tetap utuhnya penikahan mereka meskpiun sang imam memutuskan untuk memilih jalan hidup sederhana. Bahkan hal ini dilakukan saat khalifah Umar mendapatkan posisi tertingginya, sebagai pemimpin umat.

Kabar diangkatnya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah sangat mengejutkan Fatimah. Tidak kalah membuat Fatimah terkejut adalah khalifah Umar yang tak lain adalah suaminya sendiri menolak berbagai fasilitas yang diberikan. Bahkan Umar bin Abdul Aziz memilih menunggang keledai untuk kendaraan sehari-hari, membatalkan acara pelantikan dirinya sebagai khalifah yang akan diadakan besar-besaran dan penuh kemewahan.

Ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz pulang dari dari kota Damaskus, tempat ia dilantik sebagai khalifah umat Islam, Fatimah begitu terkejut. Suaminya terlihat lebih tua tiga tahun dibandungkan tiga hari yang lalu tatkala ia berangkat ke kota Damaskus. Wajahnya terlihat sangat letih, tubuhnya gemetaran dan layu karena menanggung beban yang teramat berat.

Sepulang dari pelantikannya, Umar bin Abdul Aziz berkata pada istrinya, “Fatimah, engkau tahu bukan, bahwa semua harta, fasilitas yang ada di tangan kita berasal dari umat Islam, aku ingin mengembalikan harta tersebut ke baitul mal, tanpa tersisa sediki pun kecuali sebidang tanah yang kubeli dari hasil gajiku sebagai pegawai, di atas tanah itu kelak akan kita bangun tempat berteduh kita. Maka jika engkau tidak sanggup dan tidak sabar terhadap rencana perjalanan hidupku yang akan penuh kekurangan dan penderitaan maka berterus-teranglah, dan sebaiknya engkau kembali ke orang tuamu!” jawab Umar bin Abdul Aziz.

Melihat perubahan yang begitu drastis, Fatimah kembali bertanya,”Ya suamiku… apa yang sebenarnya membuat engkau berubah sedemikian rupa?”

“Aku memiliki jiwa yang tidak pernah puas, setiap yang kuinginkan selalu dapat kucapai, tetapi aku menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi yang tidak ternilai dengan apapun juga yakni surga, surga adalah impian terakhirku,” jawab Umar bin Abdul Aziz lagi.

Melihat ketulusan niat suaminya, Fatimah yang terbiasa hidup mewahpun mantap menegaskan, “Suamiku…! Lakukanlah yang menjadi keinginanmu dan aku akan setia disisimu baik dikala susah atau senang hingga maut memisahkan kita.”

Di rumahnya yang baru, Fatimah hidup dengan penuh kesederhanaan. Pakaian yang dikenakan, makanan yang disantap tanpa ada kemewahan dan kelezatan semuanya tidak jauh dengan rakyat biasa padahal status yang mereka sandang adalah raja dan ratu seluruh umat Islam masa itu.

Dengan datangnya beban amanah yang menjadi puncak keguncangan dalam diri khalifah Umar, teranyata tak sedikitpun menggoyahkan bangunan rumah tangga. Bersama dengan Fatimah, bertanya masalah yang sedang dan telah dihadapi oleh Umar bin Abdul Aziz pun perlahan dengan pasti teratasi dengan baik. Bahkan kedamaian rumah tangga yang sudah dibangun dengan pondasi hanya untuk mengharap ridha Allah, semakin menjadi kala masalah mulai perlahan mundur dari rumah tangganya. [Hasan]

“Ketika Allah adalah tujuan, maka tak akan ada masalah yang akan menjadi beban”

banner 100x60

Author: 

Related Posts

Leave a Reply