Memberi Batasan Bermain

 16 - Ayah Bunda, 16 - AYB Agustus, Cerita Ayah

18Anak-anak sepertinya memang tidak bisa lepas dari dunia “mainan”. Mulai dari mainan berupa model fisik (benda) hingga game PC/ online. Begitu juga dengan anak kami, tidak bisa lepas dari hal tersebut. Alhamdulillah saya dan istri saat ini dikaruniai dua orang anak. Si sulung laki-laki berumur 8 tahun, sedang duduk di kelas 2 SD. Satunya perempuan masih balita  3 tahun. Bicara tentang mainan tentu saja anak lelaki saya yang punya banyak cerita. Sebagai anak laki-laki saya memakluminya bila senang dengan mainan maupun game. Si sulung, Afnan, senang sekali bermain game PC. Mungkin bisa dibilang sudah sampai tingkat kecanduan. Karena apabila sehari saja tidak main game ini, dia pasti akan menangis dan merajuk.

Saya pribadi memperbolehkannya bermain game tersebut. Namun saya dan istri membatasinya cukup sejam sehari. Saya kira itu lebih dari cukup untuk mengatasi kecanduannya bermain game. Karena jika terlalu lama pasti membuatnya lupa dengan belajar dan ngaji. Meskipun game PC membuatnya pasif dari psikomotorik, itulah yang paling digemarinya. Karena selain nge-game, Afnan juga bermain hal yang lain seperti lego dan mewarnai. Tetapi game inilah yang paling disukainya. Melarang pun kami tak kuasa.

Banyak anggapan negative tentang game online. Karena hampir kebanyakan mengandung unsur kekerasan dan pornografi. Tentu saja sebagai orang tua, kami khawatir jika anak-anak ikut-ikutan kecanduan game yang berbau seperti itu. Maka dari itu, meskipun saya memperbolehkannya main game tetap dalam pengawasan saya dan istri. Kami pastikan bahwa game yang dimainkannya bebas dari unsur kekerasan dan pornografi. Tidak ada salahnya mendampingi anak dalam hal ini. Hanya sejam, bukanlah waktu yang lama untuk membersamai anak di tengah-tengah kesibukan.

Seringkali kecanduan anak terhadap berbagai maacam game seperti itu karena lemahnya pengawasan orangtua. Belajar dari keteledoran kebanyakan orangtua, saya dan istri pun sepakat untuk memastikan bahwa game yang dimainkan oleh anak tidak berbahaya untuk moralnya. Alasan lain mengapa saya memperbolehkannya main game adalah  sebagai sarana refreshing. Kasihan juga kalau setelah sehari penuh sekolah harus belajar lagi. Memang harus ada waktu untuk bermain. Lagi pula saya melatihnya untuk disiplin terhadap waktu. Apabila jatah bermain hanya sejam, ya sudah, setelah itu tidak boleh main lagi.

Selain itu sewajarnya anak-anak sering merajuk bila meminta mainan. Saya pun pernah mengalaminya, dimana Afnan merajuk minta dibelikan mainan. Saya dan istri menuruti keinginannya akan tetapi menggunakan tabungan Afnan sendiri. Alhamdulillah, Afnan telah terbiasa menabung sejak TK. Apabila tabungannya tidak cukup, kami sarankan kepadanya untuk menunggu hingga tabungannya cukup. Begitulah cara kami menuruti permintaan anak yang macam-macam / tidak urgent. Ia pasti akan berpikir-pikir untuk menggunakan tabungannya, hingga akhirnya tidak jadi beli mainan.

Alhamdulillah juga, kegemarannya main game PC tidak membuat minat belajarnya menurun. Justru dengan pembatasan waktu yang kami terapkan membuatnya semakin semangat untuk belajar. Karena memang harus ada waktu belajar juga waktu bermain. Mengekang anak untuk menuruti apa yang orangtua inginkan tidak selalu berdampak baik untuk anak. Termasuk ketika ia akan ujian mid/ semester, kami izinkan bermain game. Hanya saja porsi untuk waktu belajarnya kami tambah.

Yang terpenting adalah jangan sampai lupa waktu belajar dan hal lainnya. Karena banyak sekali anak-anak yang sehari kerjaannya hanya berain game. Lebih parah lagi ketika ngambek dan marah kepada orangtuanya karena merasa diganggu. Naudzubillah hi mindzalik. Harus ada pencegahan sebelum anak menjadi kecanduan sampai tingkat akut. Karena kalau sudah sampai tangkat akut susah untuk melarangnya bermain game. Hal inilah yang perlu diperhatikan betul oleh orang tua. Karena pada dasarnya hal ini adalah kesalahan orantua yang kurang dalam mengawasi anak-anaknya.

Lalu apa yang harus dilakukan ketika anak sudah kecanduan berat pada game? Harus ada perlakuan khusus untuk anak tersebut. Misalnya mengajaknya jalan-jalan, piknik, dsb. Membuatnya untuk terputus kontak dengan game dan mengalihkan perhatiannya kepada hal yang lebih menarik baginya. Misalnya olahraga, menulis, menggambar dan kegiatan yang bermanfaat lainya. Tetapi tetap dalam pendampingan orangtua. Secara umum waktu orangtua untuk anak harus dimaksimalkan. Karena bisa jadi kurang perhatian dari orangtua menyebabkan anak untuk mencari pelampiasan lain yang menurutnya menyenangkan. Sehingga mari, sebagi orang tua untuk senantiasa memberikan waktu yang kita punya sebagai sahabatnya. Dengan begitu ia akan merasa nyaman untuk bermain bersama sahabatnya ini. [Heri]

pembatasan waktu yang kami terapkan membuatnya semakin semangat untuk belajar.

banner 100x60

Author: 

Majalah Embun adalah majalah keluarga yang berada dalam institusi Lembaga Amil Zakat Al-Ihsan Jawa Tengah (LAZiS Jateng). Sebagai majalah keluarga bahagia, Majalah Embun hadir sebagai penyejuk jiwa keluarga samara. Dengan tagline “Penyejuk Jiwa Keluarga Samara”, Majalah Embun berusaha untuk membersamai keluarga muslim, berbagi ilmu dan pengalaman, dan meraih kebahagiaan keluarga samara.

Related Posts

One Response

  1. Web Hosting06/17/2017 at 08:52Reply

    Jelang babak semifinal, dia pun tidak mau memberi batasan pada para pemain saat tampil di lapangan hijau.

Leave a Reply