Kebangkitan Kembali

 16 - Menu Utama, 16 - MU September, Curahan Istri

10Meski sudah bertahun menggeluti bisnis, bukan berarti kami selalu berhasil.

Pada prosesnya, perjalanan berumah tangga memang berliku. Penuh duri dan aral di setiap langkahnya. Biasanya, puncak ujian dalam berumah tangga dialami di usia-usia semakin menua. Seakan, pendewasaan suami dan istri berbanding lurus dengan kualitas permasalahan yang dihadapi. Dalam menghadapi masalah, setiap keluarga semestinya memiliki upaya tersendiri untuk mengatasinya. Tak bisa disamakan satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, menilik pengalaman orang lain bisa dijadikan acuan untuk belajar. Nah, bagaimana usaha yang dilakukan ketika keluarga berada di masa keterpurukan?

Gejolak Eksternal

Setiap rumah dengan isi kepala yang berbeda memiliki solusi atas masalah yang berlainan. Karena kadar permasalahan tidak bisa dibandingkan satu dengan yang lainnya, maka penanganannya pun bermacam-macam. Demikian halnya, ketika keluarga saya mengalami masalah terbesar sepanjang 21 tahun usia pernikahan saya dan suami. Ujian yang kami hadapi saat itu ialah masalah bisnis. Ya. Bisnis yang merupakan satu-satunya sumber penghasilan keluarga saat itu ditimpa musibah berupa tipu daya rekan bisnis kami. Padahal, bisnis yang kami jajaki tersebut bermodalkan hutang yang artinya, kami belum sepenuhnya mampu menanggung beban modal. Karena manajemen rekanan kurang bagus, kerugian tak luput harus kami tanggung. Hal ini terjadi karena, perjanjian awal yang seharusnya menjadi komitmen hingga akhir, malah tidak tertunaikan sebagaimana mestinya.

Dampak yang dialami

Berawal dari belajar kewirausahaan sejak masa kuliah, saya dan suami sudah menekuni bisnis kecil-kecilan sejak usia muda. Saya kebetulan memiliki usaha rias pengantin, sementara suami memiliki usaha toko buku. Setelah menikah, kami menjalankan bisnis alternatif yaitu rumah makan dari tawaran teman. Bisnis itulah yang kemudian kami kembangkan sebagai sumber pemasukan utama keluarga. Karena bisnis mengalami kerugian, dampak yang dialami berimbas pada ekonomi keluarga. Di sisi lain, kami tak memiliki profesi lain, selain bergantung sepenuhnya pada usaha tersebut. Meskipun masih cukup untuk mengisi perut, saat itu kami harus rela melepas keinginan lain. Keinginan tersebut adalah menyekolahkan anak-anak di pondok. Karena ketiadaan biaya, kami terpaksa memasukkan mereka ke sekolah negeri untuk menekan pengeluaran. Namun syukur alhamdulillah, saat itu bisnis yang kami rintis pertama kali masih ada. Walaupun modal utamanya ikut terserap ke tawaran rumah makan yang baru.

Peran Anak-anak

Goncangan finansial rumah tangga tentu akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga, tak terkecuali anak-anak. Sejak awal mereka berkeinginan sekolah di pondok, terpaksa menunda keinginan tersebut dengan bersekolah di sekolah negeri. Mereka melanjutkan studi hingga lulus SMA. Keikhlasan untuk menunda cita-cita tersebut merupakan wujud bantuan dari anak-anak. Mereka mampu menyesuaikan kondisi dan saling menguatkan satu sama lain. Luar biasanya, mereka tidak kecewa dengan keadaan yang harus kami hadapi. Malah, mereka berupaya membantu semampunya. Anak-anak kami belajar mendapatkan uang tambahan dengan menjual jajanan buatan sendiri di sekolah. Atas inisiatif sendiri, mereka berkenan untuk menjaja makanan dengan cara dititipkan ke kantin atau langsung dijual ke teman-temannya. Adapun hasilnya tak sedikitpun kami ambil. Uang hasil keringat buah hati, kami serahkan sepenuhnya pada mereka. Tidak ada keluh kesah yang keluar dari mulut mereka. Keberanian mereka untuk memulai merupakan buah dari pembelajaran bisnis yang kami tanamkan sejak usia dini. Hingga akhirnya, mereka benisiatif berjualan keripik jamur tanpa rasa malu atau gengsi. Usaha yang dilakukan anak-anak sangat kami apresiasi. Hal ini karena, kebangkitan keluarga kami dari keterpurukan tak luput dari pertolongan mereka.

Hikmah di Balik Kegagalan

Meski sudah bertahun menggeluti bisnis, bukan berarti kami selalu berhasil. Jatuh bangun dalam berbisnis adalah hal biasa yang harus kami jalani. Namun, kegagalan yang dialami selalu berbuah hikmah, termasuk ketika mengalami kerugian dalam bekerjasama dengan pihak luar. Kami jadi belajar tentang bisnis rumah makan yang akhirnya justru menjadi sumber penghasilan utama keluarga. Selain itu, menurunnya pemasukan memaksa kami untuk berhemat. Selama enam tahun harus mengembalikan modal yang hilang berbuah sifat legawa dalam memilah kebutuhan. Keinginan-keinginan besar, kami kesampingkan untuk fokus pada pengembalian modal. Meski, harus prihatin dengan kondisi yang ada, kami tetap optimis, bersyukur, dan bertawakkal pada Allah SWT. Sebab kami meyakini bahwa, ujian yang datang tak lepas dari penilaian-Nya. Yang artinya, seberat apapun ujian dalam berumah tangga, kami harus menanamkan sifat pantang lemah pada setiap anggota keluarga. Dengan komitmen itulah, kebangkitan dari keterpurukan dapat teratasi dengan baik. [erlina]

Dengan komitmen itulah, kebangkitan dari keterpurukan dapat teratasi dengan baik.

Musrifah Yuniati, S.Sos. Seorang ibu rumah tangga yang mendalami bisnis sejak masa kuliah. Selain berbisnis, ibu dari empat anak yang hobi membaca buku cerita ini, juga sibuk di Ormas Salimah dan mengisi pengajian.

banner 100x60

Author: 

Related Posts

Leave a Reply