Jangan Ada Dusta di Antara Kita

Hal 14Kalimat dusta pada siapa pun jelas bukan perilaku mulia. Kalimat dusta justru akan menyisakan luka. Apalagi jika dusta itu justru dilakukan oleh suami kita sendiri, tentu luka yang tertoreh di dada akan jauh lebih perih menganga.

Sebenarnya, sampai sebatas apa kita tidak boleh berdusta?

Hadits Nabi mengatakan, “Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal: Ketika perang, dalam rangka mendamaikan antar sesama, dan suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya (jika untuk kebaikan),” (H.R. Muslim).

Sesuai hadits di atas, berbohong kepada istri itu memang dibolehkan, tapi tentu yang dimaksudkan berbohong di sini tidak lalu keseringan dan menjadi kebiasaan. Saya lebih sreg mengartikan hadist ini sebagai halalnya suami “nggombal” pada istri untuk kesenangan istrinya. Misalnya, masakan istri kurang enak, lalu suami berdusta dengan berkata lumayan enak.

Jadi, bisa kita sepakati lebih dulu bahwa yang menjadi “tanda bahaya” adalah jika pasangan tidak jujur tapi bukan dalam arti menggombal. Misalnya, suami berkilah dengan jadwal kesehariannya di luar rumah, menghilangkan jejak indikasi perselingkuhan, tidak transparan dalam soal keuangan, dan sebagainya. Kalau yang seperti ini, sebagai istri kita memang harus aware sejak awal.

Biasanya, karena kita telah disatukan dengan suami bukan dalam satu-dua hari, naluri kita dapat menuntun jika suami berkata jujur atau tidak. Dilihat dari cara dia memandang, cara dia mengucapkan, atau bahasa tubuh yang lain, seseorang yang tidak biasa berbohong lalu berbohong pasti akan terlihat berbeda. Jika kita sebagai istri lantas merasa tak tenang dan tak nyaman, mungkin kita memang perlu investigasi lebih dalam.

Namun, sebelumnya kita perlu menelisik dulu satu hal: mengapa suami bersikap tidak jujur?

Suami berdusta justru karena tidak ingin keharmonisan hubungan dengan istri dan anak-anaknya terganggu jika mengatakan hal yang sebenarnya. Dia berdusta bukan karena tak sayang lagi pada istri, tapi justru karena “takut kehilangan” istri.

Jika demikian, bagaimana sikap kita sebagai istri?

Yang utama adalah adanya komunikasi yang sehat. Kita memang perlu tahu apakah suami benar-benar bohong. Tentu tidak dengan bergaya bak seorang polwan yang langsung menuduh suami. Sikap ini justru cenderung membuat dia akan bertahan dan menutupi ketidakjujurannya.

Supaya tidak menemukan jalan buntu, hal yang pertama perlu diperhatikan adalah mencari waktu yang tepat. Kita memang harus sabar dan jeli dalam hal ini. Jika kita kurang sabar dan saat itu juga langsung mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan penuh selidik, justru besar kemungkinan tak akan tergali informasi yang benar. Yang ada suami justru makin bertahan, ”Waduh istriku sudah mulai curiga nih kalau aku bohong”.

Setelah menemukan waktu yang tepat, tentunya kita perlu menyampaikan dengan bahasa yang asertif. Misalnya tentang kebahagiaan menjadi istrinya, senang selama ini dia sudah menjadi suami yang setia, dan seterusnya.  Setelah itu, baru menuju ke masalah yang ingin dibahas. Pilih kata yang tidak memojokkan. Jika ada data pendukung yang memperkuat argumen, boleh juga disampaikan, dengan gaya bahasa polos, “Mas, kok saya menemukan kuitansi ini ya di saku celana?” atau “Mas, tadi ada orang nelpon, dia bilang nagih hutang. Kata-katanya kasar, anak-anak sampai ketakutan. Ini utang yang mana ya, Mas?”

Lalu, tunggu reaksinya. Jika memang kita menyampaikan dengan baik-baik dan pada dasarnya hati suami juga baik, tentunya dia akan segera tersadarkan dan mau bercerita. Kalau sudah begitu, kita perlu memberikan apresiasi untuk kejujurannya, misalnya, “Wah, Subhanallah, saya bangga punya suami seperti Mas. Selalu jujur sama istri”.

Tapi, jika hatinya sudah dikuasai hal yang memang ingin dia sembunyikan rapat-rapat, mungkin sudah saatnya kita mencari kebenaran berita dari pihak-pihak lain, misalnya dari sahabatnya di kantor, atau teman dekatnya. Sekali-sekali, perlu juga membaca SMA/chat suami jika memang ada indikasi tidak jujur.

Lalu, bagaimana jika data-data tentang ketidakjujuran ini jelas dan kuat dan suami tetap tidak mengaku?

Pada titik ini, saya cenderung mengembalikan pada tanggung jawab masing-masing pribadi. Hanya perlu diingatkan akan pertanggungjawaban masing-masing di akhirat nanti dan kita menyampaikan padanya justru karena begitu besarnya rasa sayang kita. Tak lupa, kita banyak berdoa untuk suami tercinta. Semoga pintu hatinya segera terbuka dan tak lagi bersikap tidak jujur setelahnya. Aamiin.

bu muktia farid Oleh: Muktia Farid
Ibu dari 3 putri dan 1 putra. Dosen PAUD Universitas Terbuka.
Aktif mengisi seminar pernting dan kemuslimahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>