Hakim Massal  

 16 - Pra Nikah, 16 - PRN September, Fokus Mahligai

38Sudah dua bulan sejak ia diakui sebagai selebgram. Dengan jumlah follower mencapai puluhan ribu, membuat namanya semakin populer di kalangan remaja labil. Aizah, begitu biasa ia dipanggil. Namun, belakangan ia menisbatkan diri dengan nama beken di akun instagramnya, Aisyah Humaira. Sebagai selebriti yang sedang naik daun, tak kurang dalam sehari, ia menerima tawaran iklan hingga puluhan kali. Berbagai olshop yang menjual barang kekinian, mulai dari gamis, hijab, outer, sepatu, tas, hingga obat-obatan berlabel syar’i meminangnya sebagai agen promosi.

“Wah, hari ini aku ada pemotretan buat produk hijab syar’i di lapak sebelah,” katanya santai ketika diajak temannya, Saryah.

“Izah, apa gak bisa ditunda dulu, temen kita lagi sakit, masa lebih mentingin pemotretan yang bisa dilakukan kapan aja,” sahut Saryah dengan kecewa.

Izah diam tampak menimbang tawaran teman karibnya. “Ya, aku tau sekarang kamu udah tenar. Pergaulanmu meluas, jadwalmu padat. Tapi jangan sampai lupa diri, dong,” tandas Saryah. Izah baru saja membuka mulut bermaksud menanggapi, namun Saryah terburu meninggalkannya.

***

Suatu sore sepulang dari acara pemotretan, Izah mampir di sebuah toko buah. Ia membeli parsel berisi buah segar. Tiba-tiba handphone berbunyi.

Mbak Aisyah, saya sudah kirimkan kostum untuk endorsement. Sebuah celana pants dengan outer monokrom beserta innernya. Ttd. Syafiyah Muslim Design.

Terang saja Izah kaget, sebab selama ini ia menolak endorsement yang tidak sesuai dengan style nya.

Maaf mbak, bukankah saya sudah menjelaskan ketentuan promo?

Sambil memilih buah-buahan di hadapannya, ia menunggu balasan pesan.

Tapi kemarin manajer mbak meminta saya tetap mengirim produk kami.

Kalau begitu akan saya kembalikan. Terima kasih.

***

Kok kamu balikin produknya? Izaah, OMG produk itu, branded worldwide shipping. Rugi kalau kamu gak ambil. Kan lumayan kalau dapat tawaran dari olshop ternama,” kata manajernya, yang tak lain adalah kakaknya sendiri.

Izah melihat kakaknya dengan mimik kecewa. Sudah berbulan-bulan menjadi partner kerja, rupanya mereka belum sependapat.

“Kenapa harus, Kak? Izah kan udah buat standar tawaran yang seperti apa aja yang bisa diterima,” ujarnya sambil menatap kakaknya lekat-lekat.

Sang kakak merasa tidak terima karena selama ini pendapatnya jarang diterima oleh adiknya.

“Oya, maksudmu cuma gamis, kaftan, hijab gede dari olshop syar’i itu yang kamu ambil? Izah, dulu kamu gak kayak gini kok ya. Kenapa sekarang harus pilih-pilih? Ini bisnis, semata untuk mendapat profit yang besar. Kenapa sih harus rempong sama selera? Toh kita dapat bayaran, kan?” kata kakaknya berapi-api.

“Maaf, Kak. Tapi Izah gak ngerti kakak ngomong apa,” kata Izah dengan mata berkaca-kaca. Ia pun masuk ke dalam kamar dengan membawa parsel buah sekeranjang.

“Harusnya, kamu bisa kerja secara profesional. Kakak ini perannya jadi manajer, jadi kamu harus siap diatur-atur,” teriak kakaknya dari balik pintu kamarnya.

***

Hari Minggu itu jadwal Izah sedikit longgar. Ia mengutak-atik HP melihat pemberitahuan di instagramnya yang banyak sekali. Sekali-dua kali ada pujian dari pembaca terhadap produk yang dipromosikannya. Tiga-empat kali ada komentar yang mengagumi kecantikannya. Lima-enam kali ada kritikan pedas.

Duh, mbaknya cantik shalihah, tapi kok mau jadi subjek iklan.

Lah, mbaknya kan nutup aurat, apanya yang salah? Sahut yang lainnya.

Coba kecantikan tidak perlu diumbar, pasti lebih cantik lagi. Hehe saran aja.

Good luck mbak Aisyah, I am proud of you. You are such a muslimah role model. Love you.

Melihat komentar tersebut Izah hanya tersenyum. Biasanya, dalam sehari ia bisa berkali-kali mendapat komentar yang sama dari haters nya. Ia pun mengambil buku kecil di rak buku kemudian menulis. Ya. Selain menjadi menjadi selebgram, ia juga memiliki passion menulis. Namun, belakangan pemotretan lebih menyita waktunya untuk menulis. Hari itu, ia menulis di buku hariannya.

***

Saryah datang ke rumah Izah sore harinya. Ia bermaksud meminta maaf karena merasa bersalah atas perlakuannya kemarin. Namun, Izah tak ada di rumah.

“Bentar ya, Mbak panggilkan,” kata Kakak Izah. Ia tak menemukan Izah, tetapi justru mendapati buku harian yang tergeletak di meja belajar. Ia membacanya sekilas, tiba-tiba saja air matanya mengalir deras. Ia menyesal ketika membaca curhatan adiknya tentang alasannya menolak tawaran iklan kemarin.

Mbak gak tau dia kemana. Tapi yang jelas, ia membawa parsel buah. Kayaknya mau jenguk temennya.” Saryah pulang dengan penyesalan berlipat. [Erlina]

banner 100x60

Author: 

Related Posts

Leave a Reply