Gelombang Lautan

 16 - Kolom, Kolom Syariah

26Allah menutup hidupnya dengan khusnul khatimah karena pilihannya untuk kembali ke jalan yang benar.

Dulu, dunia dipenuhi orang-orang musyrik. Ada yang berdoa kepada berhala. Ada yang memohon kepada kuburan. Ada yang menymbah manusia. Dan ada pula yang mengagung-agungkan pepohonan.

Tuhan pun benci melihat mereka. Tidak Arab juga tidak non Arab, mereka semua tidak luput dari murka-Nya kecuali orang-orang yang mengesakan-Nya dari kalangan ahlul kitab. Di antara mereka yang tertutup mata hatinya itu, Amru in Jmuah, pemuka Arab yang sangat disegani. Ia memilii patung bernama Manaf, yang ia sembah dan ia agungkan. Manaf adalah pelindung dari segala kesulitan, tempat kembali segala kebutuhannya.

Sekalipun hanyalah sebuah patung yang terbuat dari sebongkah kayu, namun Manaf lebih ia cintai dibandingkan keluarga dan harta bendanya. Amru sangat royal menyucikannya, menghiasi dan memberi pakaiannya. Konon kebiasaannya ini ia lakukan sejak mulai mengenal dunia, hingga usianya mencapai enam puluh tahun.

Ketika Nabi SAW diutus di Makkah, Nabi SAW mengirim Mus’ab ibn ‘Amir r.a bedakwah, menjadi guru untuk penduduk Madinah. Tiga orang anak Amru ibn Jamuh, bersama ibu mereka, memeluk Islam tanpa sepengetahuan Amu ibn Jamuh. Kemudaian mereka menjumpai ayah mereka, memberitahukan apa yang disampaikan guru pendakwah tersebut, dan membacakan Al Quran kepadanya. Mereka berkata, “Ayah! Orang-orang telah mengikutinya, bagaman dengan ayah?”

Ia menjawab, “Aku tidak akan mengambil keputusan sampai aku menanyakan kepada Manaf dan melihat tanggapannya!” Amru kemudian menghadap Manaf. Biasanya, ketika ingin berbicara dengan patung, para pemuja patung meletakkan  di belakang patung mereka seorang kakek-kakek, yang akan menjawb pertanyaan mereka sesuai apa yang diilhamkan patung tersebut kepadanya.

Dengan terpincang-pincang karena salah satu kakinya pendek dari yang lain, Amru menghadap Manaf. Ia berdiri di hadapan patung, bertumpu pada salah satu kakinya, dengan penuh tkzim dan penghormatan. Setelah memuja dan menyanjungnya, ia berkata, “Wahai Manaf! Tentu engkau telah mengetahui berita tentang Muhammad. Ia ingin mencelakaimu dan melarang kami menyembahmu. Berilah peunjuk padaku Manaf!”

Namun tidak sepatah kata pun terdengar. Amru kembali memohon kepada Manaf, tetap tidak ada jawaban. Amru berkata, “Engkau pasti marah. Baiklah, Aku tidak akan menghadapmu beberapa waktu, sampai marahmu mereda.”

Amru meninggalkan patung itu dan berlalu. Ketika malam mulai larut, anak-anak Amru mendatangi Manaf. Mereka menggotong Manaf ke luar dan membuangnya ke dalam lubang yang penuh dengan sampah dan kotoran hewan. Pagi harinya, saat Amru cemas dan kebingungan, ia pergi mencari kesana kemari. Tak dinyana, patung itu ia temukan dalam keadaan kepala terjungkir di dalam lubang kotoran.

Dikeluarkannya patung itu, dibersihkannya dan diletakkan kembali pada tempatnya. Amru berkata, “Demi Allah, wahai Manaf! Jika aku tahu siapa yang melakukan ini semua, akan aku hajar dia.” Anak-anak Amru terus saja melakukan hal yang sama setiap malamnya; membuang patung itu ke dalam lubang penuh kotoran; dan sang ayah selalu mengeluarkannya dari kotoran setiap paginya.

Ketika merasa putus asa, Amru mendatangi patung itu di sore, menjelang tidurnya. Ia berkata, “Celaka kamu Manaf!! Kambing betina saja tidak mau dilecehkan.” Pemuka Arab itu kemudian menggantung sebilah pedang, dan berkata, “Hadapilah musuhmu sendiri!” Saat malam telah larut, anak-anak membawa patung tersebut dan mengikatnya dengan bangkai anjing, lalu melmparkannya ke dalam sumur sampah yang bau bacin. Pagi harnya, Amru, sang pemuka Arab itu, mencari Manaf. Saat menemukannya dalam kondisi mengenaskan seperti itu, ia berkata:

Oh! Kepala tuhanku dikencingi anjing

Sunggh hina tuhan yang dikencingi anjing

Sejak kejadian itu, Amru masuk Islam. Dan sepanjang sisa hidupnya, ia tidak mau kalah bersaing dengan orang-orang saleh lain dalam hal keteguhan beragama. Perhatikanlah sang pemuka Arab itu, ia menjadi syuhada di Perang Uhud dengan kakinya yang pincang. Lalu Rasulullah SAW bersama sahabat mengubur mayatnya. Empat puluh enam tahun berlalu, di masa Mu’awiyah, terjadi banjir yang menggenangi perkuburan syuhada Perang Uhud. Kaum Muslim pun bersegera memindahkan jasad para syahid. Ketika mereka menggali kubur Amru ibn Jamuh, mereka mendapati seolah ia sedang tertidur. Tubuhnya lemas, rambut dan kukunya memanjang, jasadnya utuh tidak termakan tanah sedikitpun. Maka perhatikanlah, bagaimana Allah menutup hidupnya dengan khusnul khatimah karena pilihannya untuk kembali ke jalan yang benar. [heri]

*)Disadur dari buku “Naiklah Bersama Kami!” karya Dr. Muhammad al-‘Areifi

banner 100x60

Author: 

Related Posts

Leave a Reply