DALIL QATH’I DAN DALIL ZHANNI

 16 - Kolom, Kolom Syariah

26Kebanyakan nash yang ada padanya mengandung berbagai macam pemahaman dan penafsiran,

Para ulama sepakat bahwa sesuatu keputusan yang ditetapkan melalui ijtihad tidak sama dengan ketetapan yang berasal dari nash; dan apa yang telah ditetapkan oleh nash kemudian didukung oleh ijma’ yang meyakinkan tidak sama dengan apa yang ditetapkan oleh nash tetapi masih mengandung perselisihan pendapat. Perbedaan pendapat yang terjadi menunjukkan bahwa ia adalah masalah ijtihad. Sedangkan dalam masalah ijtihadiyah, tidak boleh terjadi saling mengingkari antara ulama yang satu dengan yang lainnya. Akan tetapi sebagian ulama memiliki peluang untuk mendiskusikannya dengan sebagian yang lain dalam suasana saling menghormati. Selain itu, apa yang telah ditetapkan oleh nash juga banyak berbeda dari segi apakah nashitu sifatnya qath’i (definitif) atau hanya zhanni.

Masalah-masalah yang qath’i dan zhanni berkaitan dengan tetap (tsubut)nya nash dan penunjukan(dilalah)-nya.

Di antara nash-nash itu ada yang ketetapannya zhanni, dan penunjukkannya juga zhanni.

* Ada yang ketetapannya zhanni, dan penunjukkannya qath’i;

* Ada yang ketetapannya qath’i, dan penunjukkannya zhanni; dan

* Ada yang ketetapannya qath’i, dan penunjukannya juga qath’i.

Ketetapan yang bersifat zhanni ini khusus berkaitan dengan sunnah yang tidak mutawatir. Dan sunnah mutawatir ialah sunnah yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari sekelompok orang yang lain, dari awal mata rantai periwayatan hingga akhirnya, sehingga tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk melakukan kebohongan. Sedangkan sunnah Ahad tidak seperti itu.

Di antara ulama ada yang berkata, “Sesungguhnya yang dianggap mutawatir itu ialah hadits ‘aziz. Tetapi hampir tidak ada hadits ‘aziz yang mencapai derajat mutawatir. Tetapi ada pula ulama yang memberikan kelonggaran lebih dari itu, sehingga dia memasukkan hadits-hadits dha’if kepadanya, yang tentu saja ditolak oleh Bukhari dan Muslim. Oleh karena itu, hendaknya berhati-hati orang yang mengatakan bahwa suatu hadits dianggap mutawatir jika dia tidak memiliki bukti bagi ke-mutawatir-annya.

Ada ulama yang menggolongkan kepada mutawatir, hadits-hadits yang memiliki sifat hampir sama dengan mutawatir; seperti hadits yang diterima oleh suatu umat. Seperti hadits-hadits dalam Shahih Bukhari Muslim yang tidak ditentang oleh para ulama yang memiliki kompetensi dalam bidang itu.

Dan penunjukan yang bersifat zhanni mencakup sunnah dan al-Qur’an secara bersamaan. Kebanyakan nash yang ada padanya mengandung berbagai macam pemahaman dan penafsiran.

Kebanyakan pemahaman manusia tunduk kepada akal pikiran, kondisi, dan kecenderungan psikologis dan intelektualnya. Oleh sebab itu, orang yang keras akan memahami nash dengan pemahaman yang berbeda dengan orang yang biasa saja. Oleh karena itu dalam warisan pemikiran Islam, kita mengenal kekerasan (keketatan) Ibn Umar, dan keringanan (kemudahan) Ibn ‘Abbas. Orang yang mempunyai wawasan yang luas akan berbeda sama sekali pandangannya dengan orang yang berwawasan sempit. Di samping itu, maksud yang terkandung di dalam nash ada yang dipahami tidak seperti yang tampak dari segi lahiriahnya secara harfiyah, di mana segi lahiriahnya ini seringkali malah stagnan. Masalah perintah shalat Ashar di Bani Quraizhah merupakan dalil yang sangat jelas untuk menerangkan persoalan di atas.

Allah Maha Bijaksana untuk membuat nash yang beragam itu, agar mencakup kehidupan manusia secara luas, dengan orientasi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, Allah menurunkan kitab suci-Nya yang abadi, di dalamnya ada ayat yang muhkamat (yang terang dan tegas artinya) yang merupakan pokok-pokok isi Al Qur’an, dan ada pula ayat-ayat yang mutasyabihat (yang mengandung beberapa pengertian). Seluruh Al Qur’an tidak diragukan lagi bahwa ketetapannya bersifat pasti, akan tetapi kebanyakan ayat-ayatnya –dalam masalah yang kecil (juz’iyyat)– penunjukannya bersifat zhanni; dan inilah yang menyebabkan para fuqaha berbeda pendapat dalam mengambil suatu kesimpulan hukum.

Akan tetapi untuk masalah-masalah yang besar, seperti masalah ketuhanan, kenabian, pahala, pokok-pokok aturan ibadah, pokok-pokok aturan moralitas hukum-hukum mendasar mengenai keluarga dan warisan, hudud dan qisas, dan lainnya telah dijelaskan dalam ayat yang muhkamat, yang tidak dapat dipertentangkan lagi, sehingga semua orang memiliki pandangan yang sama. Persoalan-persoalan di atas juga ditegaskan kembali oleh sunnah Nabi saw, yang berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan darinya; selain ditetapkan oleh konsensus para ulama, yang disesuaikan dengan praktek yang harus dilakukan oleh umat. [Heri]

Orang yang mempunyai wawasan yang luas akan berbeda sama sekali pandangannya dengan orang yang berwawasan sempit.

*)Disadur dari buku FiqihPrioritas karya Dr. Yusuf al-Qaradhawi

banner 100x60

Author: 

Majalah Embun adalah majalah keluarga yang berada dalam institusi Lembaga Amil Zakat Al-Ihsan Jawa Tengah (LAZiS Jateng). Sebagai majalah keluarga bahagia, Majalah Embun hadir sebagai penyejuk jiwa keluarga samara. Dengan tagline “Penyejuk Jiwa Keluarga Samara”, Majalah Embun berusaha untuk membersamai keluarga muslim, berbagi ilmu dan pengalaman, dan meraih kebahagiaan keluarga samara.

Related Posts

Leave a Reply